بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Ketika ku sebagai Hamba-Nya, yang kulihat hanya satu, yaitu bergerak ke titik yang Allah ridho.
2017 merupakan titik balik tahun ku untuk melangkah, bergerak ke titik-Nya. Mulai ku melangkahkan kaki ke salah satu Masjid di bilangan Jakarta Selatan, Jalan Cipaku dengan bekal bisikan kawan yang sudah memulai hijrahnya terlebih dahulu. Saat itu, ku masih tak tau bahwa banyak hijrah yang berujung pada pencarian jodoh. Aku hanya memikirkan, ketenangan hidup dan memperbaiki diri. Waktu itu, ku tak ada fikiran jodoh harus ku cari dengan cara yang baik. Fokusku hanya: menjadikan diriku baik, sehingga aku dapat berdamai dengan diri sendiri dan mencari tahu faktor dan solusi islami papa dan mamaku dapat bercerai.
Akhirnya aku memutuskan untuk fokus dalam memperbaiki Tahsin (bacaan Quran), lalu ku lanjut dengan mengikuti kajian muslimah. Hobby ku mencatat, kabar baiknya adalah Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata "Ikatlah ilmu dengan menulisnya". 30 Desember 2017, Masjid tersebut buat flyer online, bagi siapa yang terbaik dalam meresume kajian muslimah pada hari itu akan di post ke dalam Instagram Masjid. Karna terbiasa mencatat, aku submit foto hasil tulis tangan resumeku dan isi catatan ku pada caption dengan bahasa yang simple. Alhamdulillah, tulisanku di repost. Hal ini terus berulang sampai titik dimana Marketing Communication Masjid tersebut private DM kepadaku untuk menyetorkan tulisan resume dengan target plus imbalan per tulisan. Pada saat itu masih belum banyak content writer social media, tapi ku sudah mulai di titik sederhana.
Tulisan resume ku sering muncul di explore Masjid dan cukup membuat banyak pertemanan baru di kalangan muslimah Masjid tersebut. Sebenarnya bukan itu tujuanku, tapi jika Allah beri itu, ya aku pun menikmatinya. Aku mulai ikut kegiatan komunitas hijrah di Masjid tersebut, dan kelas Tahsin ku juga berjalan dengan baik. Progress ku dalam membaca Quran dengan baik dan benar pun terbilang cukup membawa perubahan baik untuk diriku sendiri. Tantangannya, mama ku merasa anak perempuannya jarang dirumah baik weekend maupun weekdays. Namun ku menikmatinya. Pada waktu itu, mamaku belum tau apa baiknya dari kegiatan mengkaji dan belajar Quran untuk pribadi. Sedikit-sedikit ku bercerita mengenalkan kegiatan baruku di Masjid tersebut dan tambahan posisi menjadi pencatat kajian untuk digital platform. Aku menikmati waktu kesendirianku mencari Allah.
Awal tahun 2019, ketika saya sedang mencari seorang Akhwat untuk melengkapi kelompok tahsin pagi di Instagram story, ada seseorang laki-laki diluar circle pertemanan membalas dengan bertanya tentang kelas tahsin untuk Ikhwan pada private message Instagramku, aku tak heran karena pada saat bersamaan, tulisan ku yang muncul di explore Masjid sudah ramai comments & likes. Pesan berbalas biasa aja, namun nampaknya dia mulai mengikuti profil Instagramku dan melakukan kunjungan pada laman LinkedIn, aku pun masih sedikit ingat laki-laki dengan nama yang hampir sama denganku. Akhirnya aku mengunjungi profil Instagram nya lagi, tiba-tiba hilang mungkin karena tidak ter-follow balik olehku. Akhirnya ku mulai mem-follow dia dan ternyata kita satu komunitas pada Masjid tersebut.
Ku terheran pada suatu saat dia bertanya tempat kerjaku, ternyata dia adalah keponakan dari rekan kerjaku yang sudah keluar. Akhirnya aku pun berkontak dengan temanku, terciptalah mode tanya-jawab ke arah jenjang yang lebih serius dari Visi-Misi berumah tangga, dan beberapa pertanyaan pribadi termasuk planning perencanaan pernikahan. Kami belum pernah bertemu di Masjid, tapi laki-laki tersebut ingin melangkahkan kaki kerumah bertemu mama ku 3 bulan setelah perkenalan. Kali pertamanya aku melihat (Nadzor) dan mengenal secara langsung. Saat itu, aku di tanya seputar hafalan & talaqi dihadapannya. Setelah itu ada obrolan lanjut dengan mamaku untuk meminta waktu sambil berdiskusi dengan keluarganya.
Bulan ke 4 kami mengenal, laki-laki tersebut meminta berkunjung kerumah kami dengan keluarga intinya untuk sesi Khitbah. Alhamdulillah berjalan lancar & meminta kunjungan balik ke tempatnya untuk perkenalan dengan beberapa keluarganya yang di Bandung. Banyak ujian yang melintang menjelang hari pernikahan kami, terutama dari wali nikahku, namun pada akhirnya pertolongan Allah selalu dekat. Hingga kini di tahun ke-2 pernikahan kami, kami pun tetap berjalan bersama menuju kepada-Nya.
Tanggal dan tempat berarti bagi kami:
Januari 2018 = Perkenalan
30 Maret 2018 = Khitbah
20 Agustus 2018 = Akad syar'i
30 Agustus 2018 = Akad legal KUA di Lampung
15 September 2018 = Resepsi pernikahan keluarga besar dan kerabat
ما شاء الله تبارك الله
Komentar
Posting Komentar